TERKINI

Sepuluh Situs Shorter URL

Situs penyingkat URL yang biasanya digunakan untuk memperpendek URL yang terlalu panjang agar terlihat lebih simpel dan menarik. Fasilitas ini juga digunakan untuk menyamarkan URL supaya yang aslinya tidak terlihat di publik saat di share.



10 Situs Terbaik Penyingkat URL

Sekarang banyak sekali situs penyedia Shorter URL baik yang gratis maupun yang membayar kita dengan iklan mereka. Berikut, kami  merangkum 10 Situs terbaik penyingkat URL yang bisa anda dapatkan. 

  1. http://goo.gl/
  2. http://tinyurl.com/
  3. http://www.shorturl.com/
  4. http://ow.ly/url/shorten-url
  5. http://www.lnk.by/
  6. http://is.gd/
  7. http://tinyarrows.com/
  8. http://snurl.com/
  9. http://is.gd/
  10. http://nxy.in/

Kesepuluh situs diatas termasuk gratisan. Namun, bila anda ingin mencari situs URL Shortener yang membayar anda, silahkan anda mendaftar di situs di bawah ini. Sebagai catatan, tidak ada link refferal kami yang mengarah ke link-link ini karena artikel ini murni rujukan kami untuk anda.

3. Bc.Vc

Lampung Doeloe; Penghasil Kayu, Rempah-rempah dan Emas



Tempo dulu, daerah Lampung terkenal dengan kayu-kayunya yang berkualitas. Orang Belanda, F.G. Steck mencatat, daerah ini banyak tumbuh pohon-pohon kayu yang bagus dan mutunya tinggi. Sungai di daerah ini memudahkan pengangkutan kayu-kayu tersebut. F.G. Steck, salah satu di antara beberapa orang asing yang pernah mencatat situasi dan kondisi di Lampung jauh sebelum Indonesia merdeka.

F.G. Steck (Kapten Infanteri) dalam laporan yang dibuatnya untuk kepentingan Infranteri KNIL dekade pertama abad ke 19 Masehi menggambarkan situasi masyarakat hingga lingkungan alam di Lampung. Bahkan, ia juga menggambarkan keadaan di Tulang Bawang yang dikenalnya sebagai salah satu pelabuhan dan pusat perdagangan di Lampung.

F.G. Steck dalam “Topographische en Geographische Beschrijving des Lampongsche Distrikten Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië “ deel 4. Amsterdam, Batavia: Frederik Muller, G. Kolff, 1862 menyebutkan kalau saat itu orang Lampung menanam padi, lada dan kapas.

Para petani di daerah pantai menanam padi di sawah. Memang sawah hanya ada di daerah pantai. Sungai-sungai yang dalam dengan tebing-tebing terjal di kiri-kanan alirannya di daerah perdalaman Lampung sulit diandalkan untuk pengairan sawah. Orang Lampung menanam padi di ladang-ladang yang kering.

Sebelum dapat berladang, petani Lampung harus membuka lahan lebih dahulu. Kayu-kayu dari semak dan perdu dipotong; pohon-pohon besar ditebang. Lalu, semuanya dibiarkan mengering, kemudian dibakar. Biasanya, tahun pertama para petani menanam jagung, kacang-kacangan dan palawija lainnya. Padi baru ditanam tahun kedua, diselingi dengan jagung dan kacang-kacangan. 

Di daerah yang lebih tinggi, kapas menjadi tanaman selingan. Bila tanah di lahan itu subur, tahun ketiga padi ditanam lagi dan tahun keempat baru kapas. Setelah kesuburan lahan berkurang, sang petani akan pindah ke lahan baru. Inilah yang membuat orang Lampung hidup berpindah-pindah. Terkadang, ladang di daerah yang tidak subur —seperti di tengah-tengah daerah Sapoedi— harus dibiarkan menjadi hutan kembali sebelum dapat digarap lagi. Hal itu memerlukan waktu sampai 30 atau 40 tahun. 

Sistem pertanian dengan ladang berpindah ini barangkali aneh sekali di mata orang Belanda yang hidup di negeri kecil. Di Belanda, para petani mengolah lahan pertaniannya dengan intensif. Mereka terpaksa mengembangkan teknik dan strategi pengolahan tanah agar lahannya selalu panen baik. Kalaupun mau, bagi petani Belanda, tidak terbuka kemungkinan untuk menerapkan sistem peladangan berpindah. 

Padi yang ditanam di ladang-ladang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lada, yang dulu merupakan sumber kekayaan ketika Kesultanan Banten berkuasa di daerah ini, sudah tidak banyak lagi. Beberapa tahun sebelum Steck membuat tulisannya, banyak orang mulai kembali menanam lada.

Di samping itu, di Lampung semakin banyak pula orang menanam kopi. Hal ini bahkan dilakukan spontan oleh penduduk Lampung tanpa dorongan dari pemerintah Hindia Belanda. Pohon-pohon kopi ditanam sebagai pagar yang membatasi kebun-kebun lada.

Di berbagai tempat, banyak orang memelihara ulat sutra. Akan tetapi, ulat-ulat tersebutrupanya hanya mampu menghasilkan kepompong kecil. Serat sutra dari kepompong-kepompong itu bukanlah dari kualitas yang terbaik. Namun walaupun tidak menjadi komoditas ekspor, sutra dari Lampung diolah, dicat dan ditenun menjadi sarung dan selendang.

Selain kerbau, yang memang banyak jumlahnya di Lampung, tidak banyak ternak dipelihara. Ternak lainnya, seperti kambing dan domba didatangkan dari Pulau Jawa. Tidak ada sapi di Lampung. Konon, sapi di Lampung tidak mau berkembang biak. Kuda pun tidak banyak. Kuda yang ada dimiliki para pegawai pemerintah Hindia Belanda dan perwira-perwira militernya. Kuda-kuda didatangkan dari luar Lampung dan setelah tuannya pulang ke negeri Belanda atau pindah kembali ke Pulau Jawa, binatang-binatang itu ditinggalkan di Lampung.

Perdagangan dan pelayaran makin meningkat. Komoditas yang banyak diperdagangkan keluar Lampung adalah lada dan hasil hutan, terutama karet, damar, rotan, lilin lebah, gading, kapas dan kopi. Komoditas yang didatangkan ke Lampung, antara lain beras, garam, barang dan peralatan dari besi, gerabah, porselen serta tekstil. 

Walaupun ada kemajuan dalam bidang pelayaran, bagi orang Lampung sendiri tidak berarti banyak. Karena kegiatan itu hampir sepenuhnya dilakukan orang-orang dari luar Lampung. Tidak mengherankan karena orang Lampung bukanlah bangsa pelaut.

Pasar dan pusat-pusat perdagangan utama terdapat di Telok Betong dan Paloeboe, yang lebih dikenal dengan nama Sekeppel di Teluk Lampung; Bornei, Napal, dan Sepoeti di Teluk Samaka; Assahan di Sekampong; Eanto Djaija di Pagadoengan; Seringkebow di Sepoetie; dan Mengala di Toelang Bawang. 

Di Seringkebow seorang demang diangkat, khusus untuk memperhatikan kepentingan pemerintah Hindia Belanda dan pedagang-pedagang asing. Di Asahan, yang dulunya merupakan pusat perdagangan penting, terdapat seorang syahbandar yang bertugas mengawasi perdagangan (dan pelayaran) di daerah itu. Dahulu kala, syahbandar diangkat sultan Banten.Waktu itu, seorang syahbandar sangat berkuasa dan berpengaruh di daerahnya. Kini gelar dan jabatan tersebut tidak lagi bermakna banyak. 

Di Sungai Oempoe di dekat Boemi Ratoe ada emas. Logam mulia itu ditambang oleh penduduk setempat. Tidak banyak jumlahnya dan kualitasnya pun tidak istimewa. Emas itu adalah emas muda. Kekayaan Lampung bukan berupa emas dan berlian yang terkubur di relung bumi. Kekayaannya, belantara yang menghijau di permukaan buminya. Lampung memiliki banyak kayu yang bagus dan bermutu tinggi. Paling terkenal kayu dari daerah Toelang Bawang dan Sepoetie. Sungai-sungai besar yang mengalir di kedua daerah itu memudahkan pengangkutan kayu-kayu itu. Di daerah Asahan di sekitar Sekampong, banyak tumbuh pohon jati. Sayangnya, pohon-pohon berkayu mahal itu agak terlantar.   

Jalan-jalan setapak yang ada didalam belantara kerap bercabang ke kiri dan kanan. Bila ditelusuri, jalan-jalan itu biasanya berakhir di sebuah pohon karet atau pohon medang atau berujung di rawa-rawa yang terbentang luas atau menghilang ke dalam sebuah sungai. 

Jalan-jalan itu, yang lebih kecil lagi dari jalan setapak adalah jalan yang dibuat para peramu hasil hutan. Orang yang hendak mencari karet, rotan, lilin lebah dan madu memang terpaksamblusuk sampai ke relung hutan.  Ada kalanya, orang membuka jalan di hutan untuk memudahkan membawa batang-batang kayu dan rotan ke sungai. Transportasi melalui air jauh lebih mudah dilakukan. 

Dalam dunia binatang, gajah dan badak barangkali dapat dianggap sebagai pegawai-pegawai Departemen Pekerjaan Umum.  Binatang-binatang ini biasanya memilih untuk selalu melintas hutan di jalan yang sama. Ukuran tubuhnya yang besar dengan sendirinya menumbangkan pohon dan perdu di pinggir-pinggir jalan yang mereka lalui. Manusia yang menelusuri jalan itu akan mudah mengenali jejak-jejak kawanan gajah atau badak yang membukanya. Akan tetapi, yang tidak terbiasa berjalan di hutan masih akan kebingungan mencari jalan tanpa bantuan seorang pemandu. Tanpa bantuan pemandu, Infanteri Belanda takkan mungkin dapat menemukan jalan. Peneliti kontemporer pun akan tersesat tanpa pemandu jalan. 

Pada perempat akhir abad ke 19 Masehi, Lampung terbagi ke dalam lima distrik, yaitu Telok Betong, Sekampong, Sepoetie, Toelang Bawang dan Samangka. Kelima distrik ini mempunyai batas-batas yang jelas kecuali Telok Betong. Telok Betong, dipimpin seorang regent yang tinggal di Telok Betong. Sungai-sungai menjadi batas alam Telok Betong dengan daerah-daerah Samangka dan Sekampong. Pulau Lagundi, Seboekoe, Sebessie, dan Krakatou di Selat Sunda serta pulau-pulau yang terdapat di Teluk Lampung termasuk juga di dalam Distrik Telok Betong.

Sekampong berbatasan dengan Samangka, Telok Betong dan Sepoetie. Daerah ini pun dipimpin regent Telok Betong. Distrik Sepoetie yang dipimpin seorang pangeran —yang tinggal di Dusun Tarabangie— berbatasan dengan Toelang Bawang, Samangka, Sekampong dan Laut Jawa. 

Distrik Toelang Bawang berbatasan dengan Residensi Palembang di sebelah utara, Distrik Sepotie di sebelah selatan dan Laut Jawa di sebelah timur. Distrik ini dipimpin seorang demang yang tinggal di Dusun Mengala. Di bawahnya terdapat seorang sub-demang yang memimpin Boemi Agong. Sub-demang itu bertempat tinggal di Gebang.

Distrik yang terakhir, Distrik Samangka, berbatasan dengan Residensi Bengkulu di sebelah utara dan baratnya. Di sebelah selatan, Teluk Samangka menjadi batasnya. Pulau-pulau yang bertebaran di Teluk Samangka termasuk ke dalam wilayahnya. Di sebelah timur, distrik itu berbatasan dengan Telok Betong, Sekampong dan Sepoetie. Daerah ini dipimpin seorang depati yang bertempat tinggal di Bornei.

Menurut Speck, sebelum kedatangan Belanda, para tetua menjadi pemimpin. Setelah itu, penduduk dusun atau kampung memilih seseorang sebagai pemimpin —yang kemudian diangkat oleh pejabat Hindia-Belanda yang berwenang. Dalam menjalankan tugasnya, pemimpin yang dipilih itu didampingi oleh tetua di dusun/kampung masing-masing. Masalah-masalah yang tak dapat diselesaikannya diajukan lagi kepada kepala distrik di tempatnya.
Di Telok Betong dan Samangka, masih ada satuan wilayah marga yang terdiri dari beberapa kampung. Setiap kampung dipimpin seorang kepala kampung yang berkedudukan di bawah kepala marga. Para kepala marga berada di bawah pimpinan regent Telok Betong atau depati Samangka. 

Di Lampung, regent Telok Betong dianggap sebagai pemimpin pribumi tertinggi. Bersama kepala-kepala Distrik lainnya, regent diangkat secara resmi oleh pejabat Hindia-Belanda yang berwenang dan berhak menerima gaji dari Hindia-Belanda. Seorang demang khusus ditempatkan di Dusun Seringkebow, Distrik Sepoetie, untuk menangani kasus-kasus penyelundupan.

Pada umumnya, pemimpin-pemimpin di Lampung tidak memiliki kekuasaan besar atas warga yang dipimpinnya. Hukuman yang dijatuhkan atas pelanggaran tidaklah terlalu berat (di mata Belanda) dan dapat digantikan dengan membayar denda. Bahkan, hukuman mati pun dapat digantikan dengan membayar uang bangon.

Untuk kepentingan kegiatan militer, F.G. Steck mengamati, mengumpulkan data dan menilai  ciri, karakter, dan kehidupan masyarakat Lampung. Perlu dicatat, waktu itu pengamatan —penilaian terhadap hasil pengamatan itu— cenderung dilakukan dari sudut pandang kebudayaan Belanda. Pendekatan relativisme kebudayaan tidak dikenal sama sekali. Sehingga penilaian orang-orang Eropa mengenai suku-suku bangsa di Nusantara terkadang tidak mengenakkan untuk dibaca. 

Waktu itu, menurut F.G. Steck lagi, sebagian besar daerah di Lampung belum terjamahkan tangan manusia. Orang yang datang ke Lampung datang dengan kapal layar dan berlabuh di pantai-pantai yang tak semuanya cocok untuk tempat kapal besar membuang sauh. Akan tetapi, suatu perjalanan (apakah untuk urusan militer, perdagangan, misi keagamaan, ataupun pelancongan) tidak berhenti di daerah tepi-tepi pantai saja. 

Perjalanan ke pedalaman Lampung terutama dilakukan melalui pelayaran di sungai-sungai. Namun, bagi orang yang tidak mengenal wilayah yang dihadapinya, banyak pula kendala dan bahaya mengancam keselamatan perjalanan. Sungai-sungai di Lampung bermuara di tiga tempat, yaitu Teluk Semaka, Teluk Lampung dan Laut Jawa. Sungai-sungai yang bermuara di Teluk Semaka, bersumber dari mata air di di antara Bukit Barisan dan barisan perbukitan mulai dari Gunung Abung. 

Sungai yang bermuara di Teluk Lampung bersumber dari mata air di perbukitan sebelah barat Rajabasa dan Lubuk Iti. Kemudian, sungai-sungai yang bermuara di Laut Jawa bersumber dari mata air sebelah barat dan selatan Gunung Abung dan sebelah timur Gunung Rajabasa.
Berlalu lintas melalui sungai tidak sederhana. Tidak mengenal lingkungan alam setempat akan terjebak kesulitan. Beberapa sungai biasa mendadak naik pasang, terutama yang berada di dekat sumber mata air asalnya. Pada waktu itu, bahkan jalan-jalan setapak yang ada di dekatnya pun akan terendam air. 

Sungai-sungai itu pecah dan beranak berkali-kali; tidak semuanya dapat dilayari. Sungai-sungai kecil terutama digunakan penduduk setempat untuk mengairi lahan pertaniannya. Beberapa sungai seperti Sungai Semaka memang dapat dilayari bila nakhoda kapal disertai seorang pemandu sungai yang baik, supaya tidak terus-menerus terhambat batang-batang pohon yang tumbang, pulau-pulau terapung dan bebatuan di dasar sungai. 

Di daerah Mesuji, mata air sungai itu bersumber di Bukit Matawalu. Tak jauh dari sumbernya, sungai mengalir ke arah timur dibatasi tepian yang curam. Di daerah Umbul Mesuji, sungainyaberbelok ke arah utara dan kemudian menyatu dengan Sungai Batanghari. Pasang-surut sungai dengan mudah diamati dengan mata telanjang. Sebab, perbedaan permukaannya terkadang mencapai hampir setengah meter. Sungai ini sudah dapat dilayari kapal-kapal besar mulai dari daerah Umbul Mesuji. 

Semakin lama, sungai menjadi semakin dalam dan lebar. Tepiannya curam menjadi datar. Lingkungan di sekitarnya berubah penuh dengan hutan nipah dan kayu api-api. Waktu musim hujan, daerah ini membanjir sampai jauh ke pedalaman. Waktu itu, daerah ini tak mungkin dijadikan tempat untuk mendarat walaupun bukit-bukit pasir di muaranya dapat dilewati dengan mudah, kata F.G. Steck. 

Di dekat Umbul Tunggal Jawa, Sungai Mesuji menyatu dengan Sungai Batanghari yang bercabang lagi dengan Sungai Itam dan Sungai Komering. Sungai-sungai inilah yang dilayari oleh perahu-perahu dari Mesuji menuju Palembang. Pada pertengahan abad ke 19 Masehi, diperlukan waktu 5—8 hari untuk menjalaninya.

Sungai yang tak mungkin dilupakan di Lampung adalah Sungai Tulang Bawang, yang terbesar di seluruh daerah itu. Sungai ini terbentuk oleh menyatunya air dari empat buah sungai lebih kecil, yakni Sungai Umpu dan Sungai Besai yang menjadi Way Kanan serta Sungai Sungkai dan Sungai Rarem yang menjadi Way Kiri. 

Di beberapa tempat di bagian dangkal, hanya perahu kecil dan rakit yang dapat lalu. Umumnya Sungai Tulang Bawang dapat dilayari oleh perahu 2—4 koyang. Pada waktu musim hujan dan ketika air sedang pasang, perahu dan kapal 10 koyang pun dengan tenang dapat berlayar di atasnya. Apakah itu koyang? Istilah ini tidak ada lagi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan tak ada dalam kamus bahasa Belanda. Koyang, satuan berat yang biasa diterapkan pada muatan perahu atau kapal. Satu koyang sama dengan 125 kilogram. Jadi, kapal 10 koyang mampu mengangkut 1.250 kilogram barang. 

Bila demikian, sungai yang dapat dilalui kapal 10 koyang harus cukup dalam supaya kapal tidak terdampar di dasarnya. Menurut perkiraan F.G. Steck, sampai Menggala, sungai itu bahkan cukup dalam untuk dilalui kapal uap milik Hindia Belanda. Kedalaman Sungai Tulang Bawang tidak serta merta aman dilalui kapal kecil maupun besar. 

Sungai itu melalui lingkungan alam yang indah di mata orang awam, tetapi berbahaya bagi nakhoda dan pendayung. Aliran sungai itu tiba-tiba menderas menghantam bebatuan besar dan kemudian mendadak jatuh berbuih-buih sebagai air terjun. Penduduk yang tinggal di daerah perbukitan di sekitarnya membawa hasil ramuan hutan untuk dijual di Asahan dengan rakit-rakit yang terbuat dari bambu. 

Bukan main, F.G. Steck berdecak kagum melihat kepandaian nakhodanya mengemudikan rakit-rakit bermuatan berat itu. Walau perairan yang dilalui berbahaya, hampir tak pernah terjadi kecelakaan. Suatu hal yang menarik banyaknya mata air panas di Lampung. F.G. Steck menandai tempat-tempat dengan nama “Ilahan”. Karena di situ ada mata air panas dengan sungai yang bernama sama. Di Kalianda, ada sumber air panas seperti ini. 

Di beberapa tempat, seseorang tak mungkin merendam kaki telanjang di air panas, juga tidak di atas bebatuan yang didalam sumber air panas itu. Sebutir telur yang diletakkan di dalam air akan matang dimasak walau tidak sampai menjadi keras. Penduduk di sekitar Kalianda mandi-mandi dan berendam di sana untuk mengobati berbagai penyakit kulit. 

Di antara Dusun Banjarmasin dan Belalau terdapat sumber garam alami. F.G. Steck mencatat hal ini baik-baik. Sebab, garam merupakan komoditas yang sangat mahal waktu itu. Sumber garam terkenal terdapat di dekat Sungai Umpu. Air sungainya terasa asin payau di lidah. Bebatuan yang muncul di permukaan airnya tampak berwarna keputihan oleh kristal-kristal garam yang melapisinya. Penduduk daerah itu menggunakan garam untuk membumbui masakan mereka. Itu pun dilakukan F.G. Steck dan rombongannya. Garam tidak hanya terasa asin, tetapi juga baik untuk mengobati penyakit gondongan. 

Acuan Pustaka 
F.G. Steck (Kapten Infanteri). Topographische en Geographische Beschrijving des Lampongsche Distrikten dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 
 
deel 4. Amsterdam, Batavia: Frederik Muller, G. Kolff. 1862.

Daerah Sumber Emas



Pulau Sumatera dikenal sebagai Pulau Emas. Penambangan emas diketahui sudah dilakukan sejak awal Masehi. Kerajaan Sriwijaya dapat berkembang karena didukung emas. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, wilayah kekuasaan Sriwijaya juga meliputi Lampung. Situs KeratuanBalau, Lampung, ternyata mengandung tinggalan arkeologi menunjukkan sebagai permukiman penambang emas. Emas yang ditambang di sini diduga meliputi emas primer dan sekunder.
Jauh sebelumnya, semasa Dinasti Fir'aun di Mesir (sekitar 1.567–1.339 Sebelum Masehi, di pesisir barat Pulau Sumatera telah ada pelabuhan yang ramai dengan nama Barus. Barus (Lobu Tua,  daerah Tapanuli) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun Sebelum Masehi. Barus dikenal karena tempat asal kapur barus. Ternyata, kamper atau kapur barus digunakan sebagai salah satu bahan pengawet mummy Fir'aun Mesir kuno.
Di samping Barus, di Sumatera terdapat juga kerajaan kuno lainnya. Sebuah manuskrip menceritakan sumber bekalan emas untuk membina negara kota Kerajaan Nabi Sulaiman diambil dari sebuah kerajaan purba di Timur Jauh yang dinamakan Ophir. Kemungkinan, Ophir berada di Sumatera Barat. Di Sumatera Barat terdapat Gunung Ophir. Gunung Ophir dikenal pula dengan nama Gunung Talamau, salah satu gunung tertinggi di Sumatera Barat yang terdapat di daerah Pasaman.
Kabarnya, kawasan emas di Sumatera yang terbesar terdapat di Kerajaan Minangkabau. Menurut sumber kuno, dalam kerajaan itu terdapat pegunungan tinggi dan mengandung emas. Konon, pusat Kerajaan Minangkabau terletak di tengah-tengah galian emas. Emas-emas yang dihasilkan kemudian di ekspor dari sejumlah pelabuhan, seperti Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus dan Pedir. Selain Kerajaan Tulang Bawang dan Melayu, di Pulau Sumatera juga berdiri Kerajaan Srivijaya (Sriwijaya) yang berkembang menjadi kerajaan besar pertama di Nusantara. Pengaruhnya luas hingga ke Thailand, Kamboja di utara sampai Maluku bagian timur.
Sebagai penghasil emas, kawasan Sumatera memang sudah sejak lama dikenal. Budaya dariIndia masuk ke Indonesia di sinyalir dilatarbelakangi adanya emas. Hal itu terjadi karena sekitar awal Masehi, India kehilangan sumber emas di Siberia. Sebelumnya, para kafilah Siberia melalui Baktria memasok emas ke India. Akses ini sempat terputus karena gerakan berbagai bangsa di Asia Tengah. Akibatnya, India mencari emas ke daerah lain, diantaranya ke daerah sebelah timur India.
Daerah sebelah timur India yang dikenal sebagai penghasil emas disebut Suvarnabhumi atauSuwarnadwipa (Swarna Dwipa), yang artinya Pulau Emas. Sebutan itu merujuk Pulau Sumatera. Claudius Ptolemaeus menyebut Suwarnadwipa dengan Chryse Chersonesos yang artinya Semenanjung Emas. Disebut dengan Semenanjung Emas, sebab di sepanjang pegunungan Bukit Barisan banyak ditemukan sumber emas. Situs penambangan emas ditemukan di sepanjang Bukit Barisan mulai dari Bengkulu, Minangkabau, Tapanuli hingga Aceh, bahkan Lampung di ujung selatan Sumatera.
Sisa-sisa aktivitas penambangan emas yang ditemukan di Lampung, berupa batu pelandas besar dan batu penghancur biji emas. Dalam penambangan juga sudah menggunakan mercury untuk memisahkan biji emas. Botol keramik Cina masa Dinasti Song–Yuan sekitar abad ke 12–13 Masehi, tempat mercury sering ditemukan di situs-situs penambangan emas. Tanda sebagai tempat mercury adanya kerak berwarna merah bagian dalam.
Meski dikatakan Lampung terdapat sumber emas, namun di tempat yang disinyalir pusat Kerajaan Tulang Bawang, antara Menggala dan Pagar Dewa, tidak ditemukan aktivitas penambangan emas. Karena dilihat dari geografis wilayah, daerah ini berdataran rendah yang tidak ditemukan sumber-sumber emas seperti halnya di bagian selatan, yang berbukit dan bergunung serta berdataran tinggi. Walaupun demikian, ada sumber asing menyebut Talang Bawang kala itu juga memperdagangkan emas.
Aktivitas penambangan emas secara intensif diperkirakan sudah berlangsung sejak awalmasehi dan berkembang di masa Sriwijaya. Jauh sebelum berdirinya Sriwijaya, di Sumatera telah terbentuk jaringan komunikasi dan kegiatan lalu lintas, tukar menukar informasi dan bahan pangan dengan frekuensi tinggi. Tingginya aktivitas tukar menukar ini dilatarbelakangi juga oleh emas.
Pada masa Sriwijaya, emas mempunyai peranan penting bagi keberlangsungan kerajaan. Sebagai kerajaan bercorak maritim yang mengutamakan sektor perdagangan, emas komoditi penting bernilai tinggi. Semasa itu, emas menjadi sumber devisa utama yang harus dijaga keamanan distribusinya dari musuh-musuh raja dan para datu yang ingin menguasainya.
Prasasti Telaga Batu, memuat informasi tentang sikap keras penguasa Sriwijaya dalam menangani emas dan harta kekayaan lain kerajaan. Berdasarkan beberapa prasasti yang pernah ditemukan dapat diketahui, kekuasaan Sriwijaya di Sumatera terbentang meliputi Palembang, Bangka, pedalaman Jambi dan Lampung. Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya ini dikenal sebagai daerah sumber emas.
Semasa sesudah Sriwijaya eksplorasi emas masih berlanjut. Tome Pires mengunjungi Sumatera mendapati beberapa kerajaan dan daerah yang banyak memperdagangkan emas. Kerajaan tersebut disebutkannya, antara lain Aru, Indragiri, Tungkal, Jambi, Sekampung dan Tulang Bawang. William Marsden yang berkunjung ke Minangkabau tahun 1771–1779 melaporkan tentang adanya aktivitas penambangan emas. Manuel Godinho de Erada yang datang di Sumatera tahun 1807, menyaksikan pendulangan emas di Sungai Sunetrat (Sungai Dareh). Dengan mengayak pasir sungai, emas sebesar biji-bijian atau sisik ikan bisa didapatkan.
Eksplorasi emas di daerah Lampung tampaknya berlangsung terus hingga masa sesudahKerajaan Sriwijaya. Situs Ratu Balau sebagai situs permukiman, berdasarkan artefak keramik yang ditemukan diperkirakan berasal dari sekitar abad ke 9 hingga 17 Masehi. Artefak lain yang ditemukan berupa artefak batu banyak tersebar di seluruh area situs. Artefak itu terdapat pula jejak-jejak aktivitas penghancuran. Berdasarkan data, dapat diduga Situs Ratu Balau juga permukiman penambang emas.
Situs Ratu Balau, kini secara administratif termasuk didalam wilayah Kedamaian, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung. Secara geografis, lokasi situs di ujung perbukitan,berada dekat pedataran rendah pantai Teluk Lampung. Ujung perbukitan terdapat dua aliran sungai yang menyatu dan bermuara di laut. Lokasi situs berada diantara dua aliran sungai, yaitu Way (Sungai) Balau dan Way Awi atau Way Kedamaian. Way Balau mengalir di sebelah utara hingga timur situs. Sementara, Way Awi mengalir di sebelah barat hingga selatannya. Kedua sungai ini menyatu di sebelah tenggara situs, membentuk aliran Way Lunik. Di sebelah barat-laut situs terdapat Gunung Camang. Sebelah timur situs terdapat Gunung Pemancar.
Lokasi situs dapat dicapai melalui Dusun Keramat Balau. Di sana terdapat jalan setapak menuju ke arah selatan. Jaraknya sekitar 100 meter akan sampai di bagian selatan situs. Di lokasi ini, sebelah kanan jalan setapak terdapat makam Ratu Mungkuk. Sebelah kiri jalan setapak terdapat aliran Way Balau. Ratu Mungkuk, salah satu pemimpin Keratuan Balau. Menurut keterangan, Ratu Mungkuk meninggal akibat peperangan dengan musuh yang masuk lokasi keratuan.
Keadaan makam Ratu Mungkuk dikelilingi pagar hidup (tanaman) yang dilengkapi pagar bambu. Makam tidak berjirat, tetapi terdapat tumpukan batu yang disusun membentuk denah empat persegi panjang agak oval. Lokasi ini berada pada posisi 05°25’29,5” LS dan 105°17’48,1” BT. Di sebelah timur makam Ratu Mungkuk, di tepi Way Balau terdapat pohon bambu duri (aur duri). Tempat ini, di percaya sebagai sisa-sisa dari benteng pertahanan Keratuan Balau.
Di sebelah selatan lokasi makam Ratu Mungkuk, tanah genting yang diapit Way Balau dan Way Awi. Masyarakat menyebut bagian ini dengan istilah galah tanoh. Di sebelah timur laut galah tanoh terdapat lahan datar yang luasnya sekitar 16 hektar. Lahan ini, bagian inti Situs Keratuan Balau. Secara alami, lahan dibatasi dua aliran sungai bertebing curam. Salah satu bagian landai terdapat di bagian timur laut lahan aliran Way Balau.
Di bagian timur lahan, terdapat petilasan Ratu Lengkara. Kondisi petilasan berupa susunan batu, pecahan keramik, tembikar dan artefak lainnya. Petilasannya membentuk pola persegi panjang agak oval. Cungkupnya tidak berdinding dengan atap seng (bangunan baru). Ratu Lengkara salah satu penguasa Keratuan Balau. Dalam tradisi lisan masyarakat disebutkan, suatu ketika Ratu Lengkara diajak Raja Banten mengunjungi Tumasik (Singapura). Sekembalinya dari Tumasik, kondisi Keratuan Balau porak-poranda. Ratu Lengkara kemudian berpesan kepada pengikut-pengikutnya, apabila anak cucu keturunan Balau ingin mengenangnya di sinilah tempatnya. Ratu Lengkara menyampaikan pesan sambil menghentakkan kakinya ke batu. Sesudah berpesan dia pun dikatakan menghilang. Tadinya, di batu tersebut terdapat tanda tapak kaki. Sayang, batu itu kini dikabarkan sudah hilang.
Di situs Keratuan Balau terdapat beberapa tinggalan arkeologis.  Peninggalan benda-benda kuno itu ditemukan secara tersebar. Beberapa benda arkeologis yang ditemukan, antara lain berupa fragmen tembikar, keramik, manik, mata uang kepeng, artefak batu, artefak logam dan kerak besi. Selain sebaran artefak, di lokasi ini juga dijumpai adanya tiga batu besar dari jenis andesitik. Saat penelitian, mengenai batu belum dapat diduga apakah dolmen atau tinggalan arkeologis lain. Karena fisiknya belum ditemukan ciri kuat. Selain ketiga batu, di sebelah selatan situs terdapat batu berbentuk panjang dalam keadaan roboh.
Artefak khas dan signifikan yang ditemukan di Situs Keratuan Balau jenis artefak batu pipisan.Ada pula batu besar dengan salah satu permukaan datar dan halus serta batu berbentuk kotak. Pipisan banyak ditemukan berupa pecahan, terkumpul di petilasan Ratu Lengkara. Bentuk secara utuh berwujud pipisan berkaki. Penampang bagian dataran penghalus berbentuk segi empat memanjang. Salah satu sisinya lebar berbentuk melengkung, sedang bagian sisi lebar lainnya rata. Secara utuh, ukurannya kira-kira panjang 30 centimeter, lebar 15 centimeter dan tinggi 15 centimeter.
Berdasarkan jejak pemakaian yang terdapat di dataran penghalus menunjukkan dengan cara digilas. Di petilasan Ratu Lengkara juga terdapat bongkah batu berbentuk tidak beraturan dengan salah satu permukaannya halus. Beberapa bongkah batu semacam ini juga ditemukan di lahan situs bagian tenggara. Batu berbentuk kotak memanjang ditemukan tersebar di seluruh lahan situs. Seluruh permukaannya halus akibat aktivitas gesekan. Ukuran masing-masing benda tidak sama. Panjangnya antara 3 centimeter hingga 10 centimeter, lebar antara 2 centimeter sampai 5 centimeter dan tebal antara 1 centimeter hingga 2 centimeter. Artefak batu kebanyakan dari bahan batuan beku volkanik.
Emas memang sudah dikenal manusia sejak lama. Bahkan, logam emas telah diketahui sejak zaman prasejarah, Hindu-Budha, Islam, kolonial Belanda dan Jepang hingga kini. Zaman prasejarah, artefak emas misalnya, berbentuk kedok atau penutup mata yang ditemukan di Situs Kubur. Uraian beberapa prasasti dari masa klasik, emas sering digunakan untuk pasek-pasek dalam upacara penetapan sima. Zaman Islam hingga kolonial, emas cenderung berfungsi sebagaiprofan.
Emas salah satu mineral, termasuk dalam klasifikasi bahan galian logam subbagian logam mulia. Mineral emas yang penting, antara lain emas murni, Calaverite, Sylvanit, Krennerite danPetzite. Hampir semua mineral emas mengandung perak. Semakin besar kandungan peraknya, kilapnya lebih putih. Mineral emas terdapat dalam jebakan-jebakan dengan bermacam-macam tipe didalam batuan beku, sedimen dan metamorf di seluruh formasi geologi.
Berdasarkan lingkungan pengendapannya, temuan emas di daerah Lampung dibedakan antara emas primer dan sekunder atau emas plaser. Emas primer terdapat di lingkungan pengendapan di mana mineral tersebut terbentuk. Sedangkan, emas plaser mineral emas berasal dari batuan yang elevasinya tinggi. Akibat proses pelapukan dan kikisan, mineral terbawa atau hanyut oleh aliran air hujan ke tempat lebih rendah, terkumpul di suatu dataran.
Proses lainnya bisa terjadi di aliran sungai yang memotong lapisan urat bumi mengandung emas. Biji emas terbawa arus dan terendapkan di kelokan sungai yang arusnya melemah. Proses demikian akan menyebabkan terkumpulnya emas di tempat datar. Sehingga penambangan dapat dilakukan secara sederhana dengan cara pendulangan. Proses penambangan emas primer dilakukan dengan cara lebih sukar dan rumit dengan membuat terowongan, sumuran, penggalian, saluran air serta berbagai bendungan. Batuan mengandung mineral emas dihancurkan dengan menggunakan lumpang batu.
Penambangan emas di Keratuan Balau dapat dimungkinkan. Karena kondisi geologi daerah Teluk Betung dikuasai persesaran dan batuan beku yang berhubungan dengan subduction atau lajur penujaman, khususnya batuan gunung api andesit tersier serta sejumlah besar granitoid alkalin-kapur. Oleh sebab itu, daerah tersebut secara geologis sangat prospektif untuk pemineralan emas epitermal dan yang berhubungan terobosan batuan beku.
Emas dilaporkan terdapat di Ranggal (sebelah timur Tanjung Karang) didalam batuan terkersikan dan terpropilitkan. Peta geologi yang disusun Zwierzycki tahun 1931 menunjukkan, urat-urat biji emas telah ditemukan dan ditambang oleh Lampung Exploration Company. Urat-uratnya, terdapat didalam batuan gunung api yang terbreksikan dan terubah secarahydrothermal, seperti yang terdapat dalam Formasi Tarahan. 
Pembentukan mineral emas di Lampung terjadi didalam batuan metamorfosa (ubahan/malihan). Batuan itu terubah kuat di sekeliling stock dasit kecil subvulkanik. Emas primer terdapat juga didalam urat-urat batuan gunung api alkalin-kapur dari Formasi Hulusimpang. Urat batuan terubah secara hydrothermal, tersingkap di daerah Babakan Loa, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran sekarang, yang dulunya wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

Sejarah Perjuangan dan Pembentukan Provinsi Lampung


Provinsi Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu, Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Bagian Selatan, yang meliputi Palembang, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung.
Sumatera Selatan atau Pulau Sumatera bagian selatan yang dikenal sebagai Provinsi Sumatera Selatan didirikan pada tanggal 12 September 1950 yang awalnya mencakup daerah Jambi, Bengkulu, Lampung, dan kepulauan Bangka Belitung dan keempat wilayah yang terakhir disebutkan kemudian masing-masing menjadi wilayah provinsi tersendiri akan tetapi memiliki akar budaya bahasa dari keluarga yang sama yakni bahasa Austronesia proto bahasa Melayu dengan pembagian daerah bahasa dan logat antara lain seperti Palembang, Pegagan, Ogan, Komering, Musi, Lematang, bahasa Lampung; dialek "O" dan dialek "A", dan masih banyak bahasa lainnya.
Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Bagian Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adat budaya di Nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada zaman VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.
Tatkala Banten di bawah pimpinan Sultan Agung Tirtayasa (1651-1683) Banten berhasil menjadi pusat perdagangan yang dapat menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Sultan Agung ini dalam upaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten mendapat hambatan karena dihalang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Agung Tirtayasa yang bernama Sultan Haji diserahi tugas untuk menggantikan kedudukan mahkota kesultanan Banten.
Dengan kejayaan Sultan Banten pada saat itu tentu saja tidak menyenangkan VOC, oleh karenanya VOC selalu berusaha untuk uasai kesultanan Banten. Usaha VOC ini berhasil dengan jalan membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Agung Tirtayasa. Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta bantuan VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan atas daerah Lampung kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Agung Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan Banten.
Dari perundingan-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah Lampung diserahkan oleh Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus memperoleh monopoli perdagangan di daerah Lampung.
Pada tanggal 29 Agustus 1682 iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji dan ia mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang pertama ini ternyata tidak berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yag dicari-carinya. Agaknya perdagangan langsung antara VOC dengan Lampung yang dirintisnya mengalami kegagalan, karena ternyata tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni, tetapi banyak yang masih mengakui Sultan Agung Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni tetap sebagai musuh.
Sementara itu timbul keragu-raguan dari VOC apakah benar Lampung berada di bawah Kekuasaan Sultan Banten, kemudian baru diketahui bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidak mutlak. Penempatan wakil-wakil Sultan Banten di Lampung yang disebut "Jenang" atau kadang-kadang disebut Gubernur hanyalah dalam mengurus kepentingan perdagangan hasil bumi (lada). Sedangkan penguasa-penguasa Lampung asli yang terpencar-pencar pada tiap-tiap desa atau kota yang disebut "Adipati" secara hirarkis tidak berada dibawah koordinasi penguasaan Jenang/Gubernur. 
Jadi, penguasaan Sultan Banten atas Lampung adalah dalam hal garis pantai saja dalam rangka menguasai monopoli arus keluarnya hasil-hasil bumi terutama lada, dengan demikian jelas hubungan Banten-Lampung adalah dalam hubungan saling membutuhkan satu dengan lainnya.
Selanjutnya pada masa Raffles berkuasa tahun 1811 ia menduduki daerah Semangka dan tidak mau melepaskan daerah Lampung kepada Belanda karena Raffles beranggapan  Lampung bukanlah jajahan Belanda. Namun setelah Raffles meninggalkan Lampung baru kemudian tahun 1829 ditunjuk Residen Belanda untuk Lampung.
Dalam pada itu sejak tahun 1817 posisi Radin Inten semakin kuat, dan oleh karena itu Belanda merasa khawatir dan mengirimkan ekspedisi kecil di pimpin oleh Assisten Residen Krusemen yang menghasilkan persetujuan bahwa Radin Inten memperoleh bantuan keuangan dari Belanda sebesar f. 1.200 setahun. Kedua saudara Radin Inten masing-masing akan memperoleh bantuan pula sebesar f. 600 tiap tahun. Radin Inten tidak diperkenankan meluaskan lagi wilayah selain dari desa-desa yang sampai saat itu berada dibawah pengaruhnya.
Tetapi persetujuan itu tidak pernah dipatuhi oleh Radin Inten dan ia tetap melakukan perlawanan-perlawanan terhadap Belanda. Oleh karena itu,  tahun 1825 Belanda memerintahkan Leliever untuk menangkap Radin Inten, namun dengan cerdik Radin Inten dapat menyerbu benteng Belanda dan membunuh Liliever dan anak buahnya. Akan tetapi karena pada saat itu Belanda sedang menghadapi perang Diponegoro (1825 - 1830), maka Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap peristiwa itu. Tahun 1825 Radin Inten meninggal dunia dan digantikan oleh Putranya Radin Imba Kusuma.
Setelah Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830 Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma di daerah Semangka, kemudian pada tahun 1833 Belanda menyerbu benteng Radin Imba Kusuma, tetapi tidak berhasil mendudukinya. Baru pada tahun 1834 setelah Asisten Residen diganti oleh perwira militer Belanda dan dengan kekuasaan penuh, maka Benteng Radin Imba Kusuma berhasil dikuasai.
Radin Imba Kusuma menyingkir ke daerah Lingga, namun penduduk daerah Lingga ini menangkapnya dan menyerahkan kepada Belanda. Radin Imba Kusuma kemudian di buang ke Pulau Timor.
Dalam pada itu rakyat dipedalaman tetap melakukan perlawanan, "Jalan Halus" dari Belanda dengan memberikan hadiah-hadiah kepada pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat Lampung ternyata tidak membawa hasil. Belanda tetap merasa tidak aman, sehingga Belanda membentuk tentara sewaan yang terdiri dari orang-orang Lampung sendiri untuk melindungi kepentingan-kepentingan Belanda di daerah Telukbetung dan sekitarnya. Perlawanan rakyat yang digerakkan oleh putra Radin Imba Kusuma sendiri yang bernama Radin Inten II tetap berlangsung terus, sampai akhirnya Radin Inten II ini ditangkap dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang khusus didatangkan dari Batavia.
Sejak itu Belanda mulai leluasa menancapkan kakinya di daerah Lampung. Perkebunan mulai dikembangkan yaitu penanaman kaitsyuk, tembakau, kopi, karet dan kelapa sawit. Untuk kepentingan-kepentingan pengangkutan hasil-hasil perkebunan itu maka tahun 1913 dibangun jalan kereta api dari Telukbetung menuju Palembang.
Hingga menjelang Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan periode perjuangan fisik setelah itu, putra Lampung tidak ketinggalan ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangan melawan penindasan penjajah yang silih berganti. Sehingga pada akhirnya sebagai mana dikemukakan pada awal uraian ini  tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat I Provinsi Lampung.
Kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga tercipta lagu Tanoh Lada. Bahkan, ketika Lampung diresmikan menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada hitam menjadi salah satu bagian lambang daerah ini.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com